Sudah seberapa jauh aku melangkah?

 Di kutip dari sebuah blog yang telah lama saya delete




Suara merdu Al Quran menggema, berkumandang lewat masjid, pun itu hanya suara kaset menandakan minimnya manusia yang mengerti cara baca kitab suci itu di perumahan kumuh pondok kopi.

Berkali-kali pihak panitia maulid mengingatkan bahwa ba’da magrib akan ada ceramah memperingati hari kelahiran seorang nabi, tidak pula pihak panitia menambahkan bahwa akan ada snack untuk menggugah para jiwa yang gersang akan iman, seperti saya, untuk hadir.

Satu persatu manusia berpeci dan berjilbab mendatangi rumah ibadah ini, tak lupa menggandeng makhluk-makhluk kecil menyebalkan yang secara umum disebut dengan balita… mohon maaf, due I’m not a baby fan. Satu persatu datang dan duduk bersila tak lupa menjabat tangan tetangga kanan-kirinya. Kaset al quran yang diputar kini volumenya diperkeras ke seluruh penjuru, entah apakah untuk mengundang agar para penghuni komplex seluruhnya datang atau mengejek, karena dari tahun ke tahun selalu sama, syaf-syafnya selalu saja dipenuhi oleh para (maaf) pembantu dan supir.

Lalu seorang bapak datang bersama anaknya yang masih kecil dan duduk disamping saya, si anak memakai peci dan sarung yang kebesaran, pertanda itu bukan miliknya.

Di tengah prosesi si anak berdiri lalu menghadap bapaknya. Sarungnya yang kelewat besar telah melonggar dan jatuh. Dengan suara ciri khas anak usia lima tahun, dia pun merengek… “Paaaah…” lalu bergerak manja ke dalam pelukan si bapak…
Lalu suara ustadz entah-siapa-namanya perlahan menghilang dari telinga saya…
Dan malam itu saya mengalami sesuatu yang lain, nostalgia dengan masjid…

Sudah sedemikian sibuknya kah engkau, ayah?
Dulu bapak saya selalu mengajak saya ke masjid, setiap hari, sebelum kantor dan segala business meeting menculik sosoknya.
Dulu, sayalah si anak dengan peci hitam milik bapaknya dan sarung kotak-kotak merah.
Dulu, bapak saya selalu memberi uang kepada saya untuk di masukkan ke dalam kotak amal, lalu saya menjadi bergairah, entah mengapa ada perasaan aneh bila memasukkan uang ke kotak amal lalu stelah selesai menyodorkan kotaknya ke tetangga… maklum, anak kecil..
Dulu, masih terekam dengan baik saat salat pertama kali, di antara tubuh tinggi para bapak-bapak yang berkomat-kamit tapi saya tidak tau harus baca apa, jadinya hanya was-wes-wos.
Lalu bila malam belum erat mencekik, bapak saya biasanya mengajak makan bakso
Sebagai ucapan ‘thanks for not being such a bitch in the mosque’

Ah, sudah seberapa jauh sudah saya melangkah di bumi ini…
Malam ini saya mencari…
Karena malam ini saya merasa ada sesuatu yang hilang…
Tapi apa?

Kini, saya lah si manusia yang mempunyai baju koko, sarung, dan peci milik saya sendiri… yang semuanya terlipat manis didalam lemari yang hanya menghirup udara segar sesekali.
Dan kebiasaan makan bakso telah bermetamorfosa sempurna menjadi late night nasi goreng bersama teman-teman sesama penderita insomnia

Sesudah sang ustadz mengahiri ceramahnya satu persatu manusia pulang kembali ke sangkar masing2, lalu satu dua tetangga yang akrab mengejek saya “tumben ke mesjid…???” saya pun hanya bisa nyengir kayak kuda “hehehe, lagi inget pakde…”

“alhamdullillah, wis iling…” kata seorang sepuh kepada saya sebagai ucapan welcome back…
lol, let’s just hope so…

Sesampainya di rumah, terduduk pada tepi ranjang, ,tangan ini memegang sebuah kertas sedangkan mata memandang lurus pada tembok kamar yang beberapa tahun lalu telah di cat seluruhnya menjadi hijau… pada tembok itu, pernah terpajang sebuah kaligrafi indah yang telah saya resapi betul maknanya.
ﺤﺴﺑﻨﷲ ﻭﻨﻚﻤﻟﻮﻘﻞ
HasbunAllah wa nikmal wakil

Dan kertas yang saya pegang adalah kertas yang saya dapatkan pertengahan maret lalu, menempel pada sebuah kado kotak dari seorang teman berjibab yang selalu geleng kepala melihat segala kenakalan saya.

“Akhi,…
Tambah ilmu tambah rendah hati
Tambah amal tambah takut kepada ﷲ
Tambah umur kurangi tamak kepada dunia"

Kini, Kepulan asap rokok dan hentakan senar gitar ditangan seorang kesurupan telah memperkosa malam yang hening.
Malam yang seharusnya penuh akan introspeksi, tubuh tertunduk malu saat Sang Pemelihara memandang ke bumi.
Ku merindukan kenikmatan itu, tempat berkeluh kesal, dimana manusia hina ini tak pernah malu untuk kembali menjadi bayi, terisak menangis lalu tertawa sendiri seperti orang gila.

Wahai tahajud, bagaimanakah khabarmu?

No comments