Perjalanan asam manis dalam hidup


Pada suatu masa ayahanda sedang bertugas ke daerah bekasi di babelan. Saat menuju pulang kerumah mobil beliau melewati seorang tua renta yang berjongkok dan menyodorkan ayamnya ke arah beliau, lalu ayah pun memutuskan untuk menghentikan mobilnya dan menghampiri si tua renta… sebuah keputusan yang tepat, ternyata saat ayah bertemu dengan si kakek akan menambah pengetahuan dan cara pandang kami sekeluarga akan hidup, sebuah realita pahit yang bisa terjadi terhadap semua orang. "tolong pak, beli ayam saya, saya sudah lama belum makan, tidak punya uang." Pertanyaan yang terbersit dalam benak adalah … dimanakah anak bapak ini? Tidak perdulikah akan ayahnya yang kelaparan?

--------------

Dan cerita berlanjut…

Babelan adalah sebuah wilayah di bekasi yang kering nan tandus, jauh dari keramaian, jauh dari fasilitas listrik, telpon, dan internet, kesimpulannya adalah … jauh dari kehidupan. Siang itu kami memilih untuk melewati sungai muara besar untuk membeli ikan untuk lauk kami selama menginap bersama kakek itu, serta beberapa karung beras, dan kebutuhan pokok lainnya. Jarak rumah ke rumah sangat jauh, jadi bagi anda penggemar musik heavy metal atau jenis scream yang ingin memutar cd teramat keras tanpa mengganggu tetangga sekitar disinilah tempatnya. Tampak jauh di pepohonan daerah ini menyuguhkan sebuah pemandangan yang teramat sangat jarang dilihat bagi penduduk Jakarta sekaligus membuktikan bahwa daerah ini sungguh teramat terpencil… hanya berjarak 25 meter dari sampan tampak sekelompok kera ekor panjang berkumpul untuk melepas lelah dan memakan kutu sibling nya untuk sekedar makan siang.

----------------

Nah, mengapa oh mengapa saya menulis kisah ini, karena ayahanda mengultimatum setiap darah dagingnya untuk BERTEMU dengan si kakek untuk bercengkrama dan merefleksikan diri untuk mempertanyakan dalam hati ''sudahkah saya menjadi anak yang berbakti?'' at last bertemu muka… face to face.
Saya menginap semalam di gubuknya… ini bukan majas hiperbola… sungguh, sebuah gubuk reot yang (maaf) lebih pantas dihuni seekor kambing. Disinilah ļ·² mengizinkan saya untuk menimba setetes ilmu kehidupan langsung dari gurunya… seorang yang sangat pantas berkata "saya telah mencicipi asam manis kehidupan"

Alkisah bahwa si kakek ini tidak menikah, entah mengapa… dia hanya tersenyum saat saya bertanya… mungkinkah kakek terlalu malu saat masih muda? Dia tidak menjawab pertanyaan saya tapi menganjurkan saya agar jangan malu untuk berkenalan dengan gadis manapun… menikahlah dan hidup bahagia, tentu kita berbicara dalam konteks yang berbeda. Dia melanjutkan, kamu hanya perlu melangkahkan kaki kamu untuk bertemu dengan gadis pujaanmu, satu langkah yang akan mengubah hidupmu… umumnya kita terlalu sibuk memikirkan segala kemungkinan, apakah di hempas atau disambut… sungguh satu langkah kaki akan membuka jalannya dan sebaris kalimat akan mengalir secara alami… hanya perlu sebuah sapaan 'hi' walau nantinya mungkin seikat mawar dan sepucuk surat cinta ditampik tapi toh telah melangkah karena lebih baik berperang dan kalah dari pada memilih berdiam diri…

Kami bercengkrama semalam suntuk, mohon maaf bila saya tidak menulis obrolan kami di sini, hanya obrolan kecil yang membosankan.
Menjelang pagi ayahanda berganti meminjam si kakek, menyampaikan hasil investigasi yang diamanatkan kepada beliau dari si kakek.
Ternyata si kakek memiliki seorang anak angkat yang dia asuh dengan penuh cinta… tapi entah mengapa si anak tumbuh menjadi duri dalam daging.

Awalnya si kakek tidak ingin memberi informasi tentang siapa anaknya kepada ayah dengan alasan bahwa 'biarlah dia berkeluarga, saya tidak mau mengganggu hidup dia dan istrinya… saya bahagia kalau dia sudah menjadi sukses…'
tapi saat gubuk si kakek hancur sejak banjir besar lima tahunan yang lalu si anak tetap tidak muncul dan jangan pula harapkan uang 10 perak jatuh ke kantong si kakek dan ajaibnya perbaikan gubuk pun atas swadaya tetangga sekitar maka si kakek meminta ayahanda untuk melihat (hanya melihat) anaknya dengan janji tidak akan 'menyentuh' dia, ayah pun penasaran ingin melihat wajah si keparat yang tega mengencingi orang yang membesarkannya setelah di didik dan di besarkan.

Dan si anak ternyata berdomisili di daerah Jakarta utara, bukanlah hal yang sulit untuk melacaknya mengingat ayahanda bekerja di tanjung priok… pun telah hidup mapan, menikah dan dikaruniai 3 orang anak.

Kakek itu merebahkan punggungnya pada sebuah anyaman bambu yang dia jadikan tembok pada gubuk mungilnya, dengan hati-hati meluruskan kaki agar tidak menyentuh kaki lain mengingat ruang yang sempit sulit untuk bisa dibilang nyaman. Dengan sopan kakek menolak rokok yang saya tawarkan lalu memandang ke atap yang terdiri dari rumbai daun kelapa. Pandangan tegas dia tujukan kepada tiga makhluk kecil yang sedang duduk dihadapannya… "kamu harus patuh sama ibu, sembilan bulan dia mengandung kamu… (suaranya samar bercampur tetesan air mata) … bapak kamu banting tulang supaya kamu semua bisa sekolah… (mengambil nafas panjang untuk menahan isak tangis yang mengambil alih tubuhnya)… udah biarlah pak, (berganti memandang ayah) … syukur alhamdulilah kalau dia sudah mapan, … (hening, … kami semua terdiam sedangkan ibu memeluk erat si kakek dan ikut bergabung dalam tangis) … semoga anak-anaknya nanti berbakti sama orang tuanya dan dia nggak ngalamin apa yang saya alamin…"

Terbukti… lagi dan lagi… bahwa cinta kasih orang tua lebih besar dari semesta raya… tidak akan rapuh di telan usia…
 

 
 

No comments