Jogja dan Idul Adha

Dengan kedua orang tuaku, kami mengungsi dari perayaan idul adha di Jakarta yang rumah kami acapkali digunakan sebagai dapur umum, menyisakan rumah yang kotor dapur yang berantakan dan setiap senti lantai penuh dengan aroma kambing.


Bersama dengan kegelapan menyelimuti kota Jogja aku tiba dengan selamat :) setiap sudut masih sama menyambutku dengan hangat sama seperti kali lain aku datang berkunjung ke kota kelahiran ibuku. mungkin berbeda kali ini, ribuan laron ikut menyambutku, kepakkan sayap mungil di kegelapan malam dengan satu dua hinggap di rambut menjadikan kepalaku sebagai ladang bercinta.

Malam itu aku diperkenalkan dengan kuliner yang baru kurasakan di lidahku, peyek laron atau yang aku suka menyebutnya dengan peyek betina ranum. Kami menggorengnya dalam penggorengan tanpa minyak hingga kakinya mengkerut dan sayapnya terlepas lalu perutnya mengering setelahnya dimasukan kedalam adonan terigu. Kuakkui ini bukanlah makanan yang enak, aku perlu mengumpulkan mental untuk memasukkannya kedalam mulut dan rasanya pun sama, sama seperti peyek pada umumnya.

 Belum ada perabotan disana, dirumah mungil yang ayah buat sebagai tempat dia menghabiskan masa pensiunnya jauh dari keramaian. Hanya ada water dispenser, berbagai peralatan dapur dan berhelaihelai tikar selimut dan bantal. Dingin pun tak jadi masalah karena lantainya menggunakan kayu yang membuatnya nyaman untuk ditiduri. Pesta sex semalam suntuk masih tersisa hingga pagi, ribuan tubuh tergeletak kelelahan setelah mengeksplorasi kenikmatan bereproduksi. Sayap rapuhnya tersusun rapi dalam gundukan kecil disana sini.

Inilah kali pertama aku merayakan hari raya kurban di kampung halamanku, udara masih sejuk tanpa ada banyak kendaraan lalu lalang dan pagi itu semua lakilaki sudah berkumpul di masjid. Sebagian orang tua masih berdiri disebelah sapinya, banggakah bahwa tahun ini berkurban, pamerkah sehingga berdiri di samping sapinya agar tetangga melihat, ataukah hanya ingin pamit berpisah, aku tak tau.

Satu hal yang aku pelajari bahwa hewan pun begitu menghargai kehidupan, seperti kambing putih di ujung sana yang dalam sepuluh menit lagi akan meregang nyawa tapi dia masih sempat mengajak seekor betina bercinta. Dicium pipinya lalu disundul pantatnya dan bersiap menaiki tubuhnya namun dicegah oleh seorang bapak berpeci dengan batik coklat. Tubuhnya bergetar hebat saat belati itu membuat sayatan besar pada lehernya, dan ekornya bergerak cepat menahan sakit.

Lain halnya dengan sapi yang tidak menunjukkan gejolak nafsu, dia hanya berteriak pelan sebelum menuju parit kecil untuk menampung darah, ketakutan setengah mati hingga kotorannya keluar bahkan sebelum besi tajam itu menyentuh kulitnya, aku jadi teringat perkataan seorang teman, ‘he shit himself’ LoL

Begitu banyak foto yang ingin kubagi namun enggan menunjukkan sesuatu yang begitu menjijikkan. Darah, tubuhtubuh tanpa kepala, dan unmentionable lainnya, tapi satu foto ini membuat saya tergelitik untuk memajangnya. Yes baby this is his cock.

Everybody says bullshit, why not bullcock? oh wait, cowcock :p

No comments