Friday on Ramadhan


Di kutip dari sebuah blog yang telah lama saya delete


Ketenangan pagi itu dinodai oleh suara cempreng yang hanya dimiliki oleh ketua karang taruna seorang "saur,….saur…., kepada ibu2 di harapkan untuk bangun dan segera membuat santap saur karena waktu menunjukkan pukul 2 lewat 15 menit…saur…saur" begitulah rutinitas dini hari di perumahan pondok kopi. Nothing special, pun telephone yang berdering pukul 3 pagi itu hanya berupa berita biasa(bagi ku), "…laki2 apa perempuan mbakyu?…"sesaat kuping ini mendengarkan dengan seksama obrolan ibu saya dengan kakaknya. Wuih, di bulan ramadhan saya telah menjadi Oom, bertambahlah populasi jakarta dengan kehadiran satu manusia lagi. Bayi dan segala pernak-perniknya bukanlah sebuah bahan pembicaraan yang saya gemari jadi haraplah maklum bila saya melontarkan pernyataan konyol seperti :
Popok, susu, tangisan, ompol, biaya pendidikan yang membengkak, what can I say, im not a baby fan. Still…, nothing special.

Lalu rutinitas lainnya di bulan ramadhan yang tak pernah absen untuk saya lakukan ; tidur. Tapi hari ini tidur saya mempunyai makna lain (mungkin…)
Lalu saya dan teman2 sma saya sedang berkeliling sehabis shalat id (lho, kok udah shalat id?). *ke rumah siapa lagi nih?* lalu mata saya terkunci pada sebuah sudut. *Ke rumahnya amel aja yuk!* lalu kami berada di dalam dan di sambut oleh si mpunya rumah (lho, kapan masuknya?) entah kenapa air mata langsung berjatuhan. "Tante ida, maafin jonathan ya…", dan air mata trus berjatuhan, deras. "amel mana tante?" …lalu sosok itu muncul, tepat di samping ibunya. "Ameeeeeeeeeeeeeeeel" dan saya pun terbangun dengan air mata yang sama derasnya. Hehehe, saya cengeng ya, dapet mimpi melihat sahabat yang sudah meninggal aja nangis kejer.

Waktu menunjukkan pukul 9 AM, kembali saya meneruskan agenda kegiatan saya yang sempat terganggu; tidur lagi. Lalu saya berada di ruang OSIS (lho?) dan sahabat saya kembali berkunjung, apa khabar teman?, dia datang tanpa sapaan, tanpa senyum, hanya berdiri mematung di hadapan saya. Dan air mata ini tak kuasa untuk di tahan, kembali, saya menangis. Kami berbicara panjang lebar (can u believe it) . Harap maklum bahwa saya tidak akan membagi kepada khalayak ramai tentang apa yang saya bicarakan dengan (alm) sahabat saya, izinkanlah saya menikmatinya… Sendiri. Begitu banyak yang kami alami, sangatlah jarang untuk mendapatkan seorang sahabat yang melewati masa SD di sekolah yang sama, masa SMP di sekolah yang sama, dan SMA (u guess it) di sekolah yang sama, manis-pahitnya persahabatan selama 15 tahun terulang dalam satu mimpi. Duh, sahabat. Apa yang mengganggu tidur abadimu? Rindukah kau sehingga berkunjung kepadaku? Batalkah puasa saya Karena menangis dalam tidur? Pikiran saya terlalu penat untuk memikirkan batal tidaknya puasa coz lifes goes on.

Waktu pun terus bergulir dan kaki ini pun melangkah ke sebuah rumah kos di bilangan salemba. Hampir satu semester saya tidak menjumpai teman2 dekat saya di kampus. Kami bertujuh disibukkan dengan skripsi masing2 tapi sayang dari formasi lengkap *en d geng en d skut en d brut* (nama yang kami pilih untuk sebutan geng kami, dan tolong jangan tanya mengapa) hanya di hadiri oleh lima skutbruter , T sedang sakit dan A sedang mempersiapkan pernikahannya. Dan begitulah 5 orang aneh yang sudah lama tak bersua, tak ada yang berubah, pertemuan selalu di mulai oleh celaan2 dan guyonan (Oh, God. Im gonna miss this thing) karena sebagian besar dari kami adalah anak rantauan dan akan kembali ke kampung halamannya setelah lulus, di balik ejekan itu tersimpan rasa sedih yang tak ingin di tunjukkan, terlalu sakit untuk di ungkapkan, entah kenapa kami menyadari sumbu untuk kami tetap bersama semakin memendek, yakin bahwa perpisahan ada dan suatu hari akan menunjukkan batang hidungnya.

Dan ini lah kami,5 orang yang sedang menikmati kolak pisang sebagai hidangan berbuka.

L, Si anak kecil yang selalu ingin tampil "dewasa"
M, Si sulung yang merasa beban dunia ada di pundaknya
S, Si dayak yang tak pernah bisa diam
R, Si kurus yang selalu ada bahan untuk di perbincangkan
Dan aku, si amang.

Malam itu aku membantu mereka mengemas barang2 karena sabtu pagi mereka akan kembali ke rahim tempat mereka datang ke dunia.
Dan pembicaraan pun bergulir dari perekonomian sampai dengan masa depan yaitu bertaruh berapa lama si A akan bertahan dalam indahnya pernikahan sampai bertarung ala suami-istri…harap maklum tapi ini lah kekhasan pertemanan kita, konyol memang. Dan sang waktu pun terus berjalan pelan menuju kegelapan malam yang kian pekat, waktu sudah hampir pukul 9 PM. Aku dan S yang masih tinggal dengan orangtua dan merasa mempunyai kewajiban untuk tidak pulang terlalu malam akhirnya pamitan dan S bersedia memberi tumpangan sampai BuTet atau yang lebih terkenal dengan sebutan Buaran Theater oleh anak abege.
Anything special yet??? Not yet hehehe

Setelah sampai di di butet waktu sudah menunjukkan pukul 10 PM, wuih naik apa gw??? Lama saya menunggu metro mini yang terakhir karena jam itu adalah jam-jam kloter metro mini yang terakhir, coz if u miss it than all u can say is aurevoir. Terlalu lama saya menunggu lalu saya putuskan untuk berjalan sampai dengan stasiun buaran dan menunggu bersama seorang ibu dan anaknya yang saya taksir berumur 8 tahun (coz dia cerita kalo dia sekolah 2 SD). Perlu saya gambarkan kondisi stasiun buaran jam 10.20 PM, dingin, gelap, dan hanya sedikit sekali mobil pribadi yang lalu lalang , tidak heran bila ada segerombolan lelaki berjalan mendekati anda maka segala indera anda akan secara otomatis siaga 1.

Lalu datanglah mobil keparat yang telah lama saya tunggu, dan turunlah 3 orang yang tidak salah lagi bertempat tinggal di prumnas klender. Then it hits me in the head. Ibu tadi berjalan kearah seorang lelaki dan mencium tangannya lalu si anak berteriak manja kepada lelaki tadi untuk minta di gendong. Apa yang membuat malam yang dingin ini begitu hangat, saya hanya terpaku melihat keluarga kecil ini. BBM yang harganya naik menggila, dan biaya telpon, elpiji dll yang akan ikut2an menjadi laknat. Dan segala ketakutan saya tentang berkeluarga…….saya hanya terpaku melihat mereka berjalan pelan kearah prumnas sambil mendengarkan cerita si anak tentang sekolahnya dan terdengar tawa si bapak-ibu tadi. Tak terasa metro keparat yang telah lama saya tunggu telah berjalan menjauhi saya, entah kenapa saya ingin berjalan, ya, berjalan hampir 2KM menuju rumah, hanya di temani sebungkus rokok Djarum super saya berjalan kearah rumah, sungguh malam itu terasa begitu tenang. Adakah malam ini malam lailatul Qadar?

Lalu tibalah saya di dalam kepungan tukang2 ojek di bypass pondok kopi. "..ojek pak?..." saya hanya tersenyum sambil menggeleng pelan (saya di panggil pak… hiks T_T) dan kembali bertanya apa yang membuat mereka tetap mencari pelanggan walau sudah hampir tengah malam? Tidakkah istrinya menunggu di rumah, tidakkah anak2nya merindukannya? Padahal jam segini hampir tidak mungkin mendapatkan pelanggan. Lalu homo ini merasa begitu kecil. Saya, di bawah lampu jalan yang bersinar orange memandangi jalan pondok kopi, jalan yang telah saya lihat dari kecil, sambil di barengi dengan beberapa kepulan asap rokok dan mulai tersenyum…gila ya, tersenyum damai sekaliiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii.

Dan kembali merenungi hal2 yang saya alami,
Kelahiran
Kematian
Pertemuan
Perpisahan
Keluarga
Kesetiaan
Hal2 diatas yang saya sebut sebagai the itch in life saya rangkum hanya dalam satu hari.
This is (to me) the special thing.
Saya lelah, apa khabar ranjangku yang manis…


Saya mohon maaf kepada Dewi "dee" Lestari karena mengutip novelnya tanpa permisi.

*Kesunyian rupanya sudah mengendap-endap naik, mencuri sahabatku dalam selendang niskala yang ujungnya tak bisa di tarik balik. Sahabatku digondol kemerduan kekal yang hadir tanpa lantun. Kemerduan yang belum saatnya kuleburi, tapi dia sudah.
Sekarang dia sudah.
ą„
Om.
karena cuma itu yang kutahu.

Tidakkah manusia itu lucu, bodhi? Selama hidup mereka konstan mengeluh dan mengaduh, tapi begitu hidup ingin menarik diri, mereka tidak pernah rela.

Lalu kupejamkan mata, mencari iman yang mungkin masih menggenang entah dimana……cukup setetes. Satu tetes, maka aku siap berlari mendekap maut, menyapanya akrab. Apa kabar, teman. Lama tak jumpa. Akankah kau mendekapku balik, atau mendorongku pergi?*



In loving memory of
Amelya margaretha priyono
1983-2003

No comments