Di kutip dari sebuah blog yang telah lama saya delete
(*meminjam judul dari sebuah posting milik mas imam brontoseno; seorang sutradara yang cerdas dan memiliki bakat yang luar biasa untuk menuangkan pikirannya kedalam tulisan)
Seorang pekerja seni menulis dalam blognya "Kemapanan memang memabukan dan membuat kita menjadi lemah, tidak sensitif dan stagnan" dhuh, mas sut (radara)… saya jauh dari kemapanan… tapi sungguh setelah membaca posting anda saya menyadari ada yang hilang dari kehidupan saya… kepekaan, sesuatu yang dulu diajarkan kedua orang tua saya dengan penuh kasih sayang dengan harapan membuahkan manusia yang baik. Dalam hati saya berpikir, apakah kita membicarakan kepekaan yang sama?
Anda membicarakan tentang karya seni yang terlahir dari para maestro, melahirkan karya yang monumental… sedangkan saya hanyalah belatung kurus yang hinggap di borok seorang pengemis lapar, kepekaan saya tergerus karena cepatnya laju kehidupan… saya rindu membaca dan meresapi jiwa-jiwa yang saya temui di persimpangan jalan… saya kehilangan rasa untuk perduli…
Saya terlahir miskin, pada sebuah perkampungan kumuh di dekat terminal pulo gadung… terlahir dengan tubuh yang ringkih karena asap hitam kendaraan menggumpal di paru-paru hingga lembaran kwitansi pembayaran obat menumpuk… lembaran kwitansi berarti hutang kepada tetangga yang harus dibayar… hutang berarti orangtua saya harus bekerja lebih giat lagi… lebih giat berarti jam lembur yang panjang dan jam istirahat yang sedikit dan kembali bekerja lagi hanya untuk upah yang minim. Kehidupan standar typical masyarakat kelas bawah yang bahkan tak sempat untuk sekedar bermimpi menjadi artis terkenal…
Pada waktu itu ayah saya tidak bekerja, teramat susah untuk mencari pekerjaan di darat bila latar belakang pendidikannya adalah kelautan… jadi ibu yang bekerja, pada sebuah pabrik di pupar dengan seragam buruhnya; biru dan hitam… sedangkan ayah harus menelan ego nya sebagai kepala rumah tangga untuk pergi belanja ke pasar, mengurus rumah, dan terlebih lagi, rutin mengurus saya selama menderita tbc dan tetek bengek lainnya… 6 bulan yang pertama gagal, lalu berlanjut ke pengobatan 6 bulan berikutnya… selama satu tahun lebih secara konstan tubuh saya menelan pil-pil yang menyedot habis keuangan keluarga…
Dengan penuh air mata saya menulis; hidup miskin itu tidak enak…, tapi lebih menyedihkan lagi bila tidak mensyukuri hidup… itulah yang orang tua saya coba ajarkan; tersenyumlah dan nikmati…
Tersenyumlah dan nikmati saat nafas tersengal saat tbc menggerogoti dadamu
Tersenyumlah dan nikmati saat air liur menetes melihat teman-teman menaiki sepeda bmx hanya karena naik kelas
Tersenyumlah dan nikmati saat ayah tidak dapat memberikan kamu apa-apa walau kamu peringkat pertama di kelas
Tersenyumlah dan nikmati saat tetangga memanggil ibumu lonte hanya karena pulang terlarut malam
Tersenyumlah dan nikmati mangga curian dari rumah tetangga yang memanggil ibumu lonte
Tersenyumlah dan nikmati kesendirianmu saat tidak diundang oleh teteangga kaya untuk menonton film goggle five hanya karena kamu miskin
Tersenyumlah dan nikmati bila mainanmu yang paling mahal adalah sepasang kelereng
Tersenyumlah dan nikmati uang jajanmu sebesar 25 perak yang hanya cukup untuk membeli sebuah es lilin
Tersenyumlah dan nikmati karena kamu tidak harus berjualan koran seperti anak miskin lainnya
Tersenyumlah dan nikmati hidupmu karena hidup itu indah…
Dhuh, ayah dan ibu… kini saya tersenyum dan menikmati masa kecil saya yang miskin dan teramat sangat berharga…
Banyak dari teman-teman saya yang tidak (akan pernah) percaya perihal masa lalu kelam keluarga saya… banyak yang tidak (akan) mengerti perihal penolakan kerabat kami yang lebih dari mampu untuk sekedar membantu… hidup itu indah, dan terkadang rumit…banyak hal yang tidak dapat saya jelaskan mengapa namun terjadi… maka kami hanya bisa tersenyum dan menikmati manis dan pahitnya hidup.
Beberapa tahun silam saya mampir ke pulo gadung, dipetak rumah tempat kami biasa tinggal karena teman ibu memberitau bila gubuk itu akan dihancurkan untuk dibuat rumah susun… kedengarannya memang sangat konyol karena kami kesana hanya untuk mengembil sepotong besi… sepotong besi berkarat dengan bentuk huruf 'J' (seperti gagang payung)… besi tua ini lah tempat kami menggantung lampu petromaks, bahkan kami tak punya cukup uang untuk berlangganan listrik, maka lupakanlah tv hingga ibu harus harus menahan malu untuk menumpang duduk tanpa membeli apapun pada sebuah warung hanya untuk sekedar menonton tv. Dibawah lampu petromaks ini kami biasa berkumpul, kemiskinan membuat kami sangat erat… setelah bada magrib ayah membantu sulung untuk mengerjakan pr lalu kami para anak memijat orang tua… dan bila ibu ada rezeki lebih maka kami akan ditraktir minuman paling mahal yang bisa terbeli; sebotol coca cola yang kami bagi berempat (tapi ibu tak pernah menikmatinya, beliau selalu memberikan jatahnya ke saya). Besi itu kami temukan tak jauh dari puing-puing, tergeletak bersama sampah sampah yang menggunung lalu kami bercengkrama dengan tetangga yang menjadi sahabat-sahabat ibu (baca; yang meminjamkan uang) dan juga tetangga tetangga yang kurang bersahabat (baca; si mulut silet) namun saya tak menemukan sosok yang bernama evan, dulu saya biasa menonton mas evan berlatih break dance dengan teman-temannya lalu beliau mengantarkan saya ke rumah karena saya takut bila pulang melewati sebuah pohon besar… pohon itu ternyata hanyalah pohon biasa, entah mengapa terlihat luar biasa menyeramkan saat saya kecil.
Setelah tahun demi tahun berlalu dan keuangan keluarga membaik, kami (insya ﷲ) tidak berubah… tidak ada yang menandingi nikmatnya ikan asin dengan sambal ulek dan makanan terenak didunia menurut saya adalah dadar telor buatan ibu (bukan dadar telornya yang enak, tapi cara makannya; dibelah empat lalu dimakan bersama).
Benarkah kemapanan sanggup menggerus kepekaan di diri? Salahkah bila seorang pengemis di kolong jembatan bermimpi untuk hidup mapan? Ingatkah sang pengemis akan tikarnya bila telah tergantikan dengan kasur busa yang empuk? Akan bencikah dengan kehidupannya yang lalu bila telah hidup secara berkecukupan?
Saya masih ingat akan susahnya hidup dimasa silam, tapi saya masih berjuang untuk mewujudkan mimpi indah yang gemilang namun ada yang hilang… sesuatu yang sudah saya jarang lakukan… tergerusnya kepekaan … hilangnya rasa perduli yang membuat saya lupa untuk berhenti sejenak dan mengucap rasa syukur…
Seorang teman menyebut saya sebagai the silent observer, saya senang mengamati jiwa-jiwa yang bersinggungan dengan kehidupan saya… pernahkah anda melihat keluar, ke kaca jendela… dan membayangkan isi pikiran seorang manusia… 
Mungkin dia seorang pekerja di sebuah pabrik, mungkin di tempat ibu saya biasa bekerja, mungkin anaknya dua atau mungkin tiga, bagaimanakah khabar istrinya… mampukah dia bertahan bila harga-harga kebutuhan enggan turun?
Terlambat masuk kantor… dateline menumpuk… cicilan motor harus dibayar… belum membayar uang spp si kecil… rasanya mau mati saja…
Aku rindu istriku… aku rindu keluargaku… kapan aku bisa punya uang untuk pulang kampung… 
Kenapa jonathan tidak pernah membawa pacarnya kerumah, apa dia takut sama perempuan? Saya sudah tidak sabar bertemu calon istrinya… atau mungkin anakku gay…???
Membaca, mencoba memahami… dan bersyukur…
Lahir dengan segala kepayahan membuat diri saya (dulu) peka, tidak memiliki ini atau memiliki itu adalah sekedar perkara memiliki sesuatu… bukan sesuatu yang patut dipermasalahkan… tapi banyak yang berubah, dan saya sangat bersyukur akan hal itu, saya tak lagi harus menghirup asap knalpot yang diberikan gratis oleh ratusan kendaraan umum yang melintas walau dikacanya tertempel "telah diuji emisi…", tak lagi bermain kelereng di tanah yang basah, tak lagi harus menahan lapar, tak lagi miris bila tidak diundang nonton goggle five atau ultramen… at last… punya tv sendiri…
Namun saya masih sangat membutuhkan kepekaan itu untuk memahami hidup lebih baik, salah kah saya bila ingin menjadi hamba yang bersyukur… dahulu saat adzan berkumandang kami langsung meluncur ke mushola terdekat, waktu itu tidak ada tv ataupun kuis yang menyuguhkan hadiah fantastis senilai 2 m, kami biasa bercengkrama dibawah sinar temaram lampu petromaks… kini ayah jarang pulang, bila lapar tinggal teriak maka makanan diantarkan ke lantai atas, dan lucunya saya tersadar… dulu saya tidak pernah menuangkan kekesalan saya ke blog, duduk di balkon menenteng laptop larut malam ditemani secangkir kopi dan sebungkus rokok… saya menciptakan blog ini sebagai pelarian, pelarian dari segala pahit… saya tidak pernah berlari dari apapun sebelumnya… karena dulu kesederhanaan membuat hidup ini lebih bermakna… atau mungkin terasa bermakna karena kini tak lagi harus menderita?
Kemudahan yang diberikan membuat hidup bergerak cepat… tak ada waktu untuk menengok kiri dan kanan, hanya sekedar menyapa Sang Pemilik Nyawa… saya bukan lagi pengguna kereta yang berdesakkan pada sebuah gerbong yang dijejali dengan tubuh-tubuh bau keringat… bukan lagi keluarga dengan setumpuk hutang…
establishment has nothing to do with sensibility? Think again…
seorang homo duduk pada pembatas sebuah balkon yang dingin, menghisap rokoknya yang entah ke berapa, merasa hidupnya hambar, menyapa ayahnya yang baru saja pulang pukul 23.14…
Dia mengadahkan wajahnya ke atas, memandang anaknya yang nakal dan selalu membuat onar…
Saya tersenyum, namun dia terlalu letih untuk membalas senyuman saya…
Sesosok figur yang selalu saya kagumi…
Saya telah melihatnya menangis dua kali… airmatanya disembunyikan pada dua telapak yang tebal dan penuh kapalan…
Dia menangis karena tak mampu membayar pengobatan saya, setelah saya ditabrak lari sebuah sedan yang membuat tengkorak saya retak sepanjang empat centi…
Dulu, saat kami masih miskin…
Dia diam saja ketika saya merengek minta makan… sedari siang perut ini belum diisi dan malam sudah teramat larut… saya menangis histeris namun ayah hanya beranjak dan duduk didepan pintu… tidak ada teras, hanya pintu dengan keset 'welcome' yang sobek… dia mendudukkan saya di pangkuannya untuk menunggu ibu pulang dengan harapan membawa sebungkus nasi… dia memeluk saya dengan erat dan meminta maaf lalu menangis… saya terdiam, saya masih 5 tahun… airmatanya meleleh diantara telinga dan pipi saya… kami berdua menangis…
Sembah sujud mohon ampun dhuh ayah… kini baru teringat bahwa tidak ada beras sejak kemarin sore… kita semua belum makan, kita semua tidak makan…
…
ayah menaruh tas kerjanya pada sebuah meja dan merebahkan tubuhnya di kursi lazy boy 2000 yang bergetar… acap kali mengeluh akan sendi kakinya yang mengilu…
sudah makankah kau ayah? Dia tersenyum dan menceritakan menu di sebuah restoran jepang yang baru saja dia kunjungi…
masih ingatkah kau ayah saat kita kelaparan?
Dulu, saat kita masih miskin…
Kepekaan yang terus tergerus*
Friday, 26 November 2021
loading..
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


No comments