Mudahnya Jatuh Cinta

 

Di kutip dari sebuah blog yang telah lama saya delete


Entah mengapa teman atau sahabat menjadi sitting duck yang paling top saat hati sepi akan kasih sayang. Besar dan tumbuh bersama, mengetahui kelebihan dan kekurangan masing-masing, dan menjadi tumpuan kekesalan saat hati terbelah menjadi dua… lalu terbersit di benak ‘kenapa nggak ama dia aja ya???” mwahahaha…

Pun sahabat hanya cocok di jadikan sahabat… kata orang tua ‘jangan merusak keseimbangan alam’…

Kami adalah teman sepermainan… rumahnya hanya berjarak 3 cluster perumahan yang bisa ditempuh dengan tiga kedipan mata lalu berpisah saat menuju kedewasaan karena dia harus menimba ilmu di kota lain.

Sore yang mendung di akhir pekan dia pun berkunjung ke rumah lalu mengambil kerikil kecil untuk ditimpuk ke jendela kamar… ciri khas jaman dulu… tapi bibi lebih tanggap.

Bibi mempersilahkan masuk,
Lalu dihadang oleh nyonya rumah

“saya perry tante, temennya Nathan.”
“ow…”
“Nathan ada tante?”
“ada, sebentar lagi turun… kamu yang kuliah di ugm ya?”
… … …

saya sengaja mengamati dua manusia itu di tangga bercengkrama pada sebuah ruang tamu dengan sisa-sisa kue lebaran.
Tawa lepas sesekali menghiasi pembicaraan mereka, 

“dhuh ibu, sudikah punya menantu seperti dia?”

* * * 
pada perjalanan menuju pulo mas kami meng-up-to-date kisah hidup kami… aih, tak disangka dulu yang sering ngiler dan ingusan hingga kering di hidung kini tumbuh menjadi pemuda yang siap disantap tanpa perlu bumbu penyedap.



Tapi tak ada reaksi kimia yang teroksidasi, tetap… sangat nyaman untuk kumpul sebagai sahabat… bersama teman-teman, merokok pada warung kopi langganan, bermain gitar dan ngobrol sampai pagi… aneh rasanya bila gw-elo menjadi aku-kamu.

Bahasa inggrisnya something is better left unchanged ya?…

No comments