Sudi kiranya saya mengutip…
‘bukan lautan hanya kolam susu, kail dan jala cukup menghidupimu…’
sungguh klise, saya tidak terlahir di zaman saat group ini tenar layaknya rock and roll superstar yang dikejar-kejar remaja ingusan namun entah bagaimana kalimat diatas selalu digunakan untuk mendeskribsikan kekayaan Indonesia… tapi zaman sudah berubah, namun syair lagu itu selalu terpakai… tak punya niat untuk memajangnya di musium bersama benda berkarat rongsokan lainnya…
lalu apakah kesimpulannya? Benarkah kita hidup pada sebuah budaya narsis yang selalu terbuai pada kejayaan masa lampau? Ataukah kita punya mata tapi
tidak melihat? Atau lebih parah lagi, punya hati tapi tidak merasa?
sama halnya saat saya memakai seragam putih-merah ratusan tahun silam, para siswa dicekoki dengan serba-serbi kejayaan masa lalu Indonesia; saat sriwijaya menguasai asia, belanda datang karena kekayaan alam kita, dan kisah-kisah lainnya yang tidak bosan dituturkan dalam setiap kurikulum yang menggenjot biaya pendidikan makin menggila. Saat itu setiap siswa wajib membawa buku RPUL (rangkuman pengetahuan umum lengkap) yang menurut saya setelah dewasa adalah propaganda dari pemerintah (sort of) karena sebagian besar menjelaskan tentang kekayaan Indonesia; di pulau bangka terdapat ini… di irian terdapat itu… di aceh kaya akan tambang anu… tapi tidak pernah ditulis dalam buku tersebut bahwa rakyat tidak akan merasakan itu semua dan tentu saja dikuasai pemerintah sepenuhnya (sampaikan salam kepada almarhum yang mencetuskan Pasal 33 UUD 45)…
lalu sang guru menambahkan betapa hijaunya pepohonan di Kalimantan, tapi tak pernah menjelaskan bahwa Kalimantan sudah menjadi hamparan tusukan gigi raksasa berwarna hitam bila dilihat dari atas… nah, jonathan… kamu tau nggak kalo Indonesia adalah paru-paru dunia… lalu saya menjadi bergairah takkala nama Indonesia disebut dalam urusan internasional dengan bibir tertarik penuh luapan bangga… oh ya, Nathan besok bikin kliping ya tentang presiden yang berkunjung ke daerah anu… lalu sang guru tersenyum dengan wajah penuh optimis tapi lupa menerangkan bahwa pedagang-pedagang di usir dari tempatnya berjualan seperti anjing pesakitan hanya untuk memakaikan topeng pada wajah busuk bernama Indonesia. Pelajaran hari itu ditutup dengan sebuah nasihat dari sang guru; Jonathan, kamu harus rajin belajar ya… contohlah teman-temanmu di negeri sakura, mereka langsung belajar sehabis pulang sekolah… mereka nggak mau menghabiskan waktu hanya dengan bermain layangan… oh bu guru, tidak taukah engkau bahwa ayah saya banyak menghabiskan waktu di negeri para samurai dan entah kenapa beliau tertawa saat saya menceritakan nasihat itu… dengan mata berair menahan tawa sambil memegang perut sang ayah berkomentar… menurut saya semua anak didunia sama saja, bermain. Kalau semua anak di jepang belajar melulu terus pokemon, digimon, dan doraemon siapa yang nonton?
sembah sujud terimakasih kepada kedua orang tua saya yang tidak begitu menanamkan rasa cinta tanah air yang terlalu berlebih sehingga saat mendapat ancaman bahwa mungkin nilai P4 saya akan membuat buku rapor kebakaran ayah hanya tersenyum…
waktu itu tahun 1990, diatas dek pada sebuah kapal di tanjung priok… ayah selalu mengajak saya bermain ke kapal tempat dia bekerja bila berlabuh di Jakarta… mungkin beliau telah membaca pertanda-pertanda kehancuran bangsa ini, padahal dua puluh tahun yang lalu… I was eating dirt back then.
‘ayah sudah melihat berbagai Negara, berbagai budaya, dan pada saat kamu besar nanti kamu akan sadar bahwa Indonesia itu hanya kentut di jagad raya… pejabat terbukti korup tapi masih senyam-senyum didepan wartawan serasa nggak punya dosa sambil menjelaskan pentingnya peningkatan akhlak dan moral bangsa tapi nggak pernah mampir ke penjara karena bebas hukum toh dia yang buat undang-undang… … … kamu tau apa artinya?’
saya menggeleng sambil berkonsentrasi pada sebatang coklat silver queen di dalam tas kerja ayah …
‘itu artinya undang-undang di negara ini yang buat adalah penjahat, jadi buat apa kamu takut nilai Pedoman, Penghayatan, Pencurian, dan Perampokan (P4) kamu dapet 5… kita cari sekolah lain aja**’
(Saat itu ada peraturan bahwa siapa pun yang nilai P4 (sekarang mungkin PPKn) dan agama bila nilainya tidak seperti yang diharapkan maka otomatis tidak naik kelas)
***
sigh, separah itukah Indonesia?
dua puluh tahun setelah khotbah ayah di sebuah kapal yang penuh peti kemas… dan Indonesia belum berubah…
Sedikit flashback from the past ini kembali teringat saat saya berteduh pada sebuah halte bus di Jakarta yang banjirnya kian parah… sabtu malam pukul sembilan, hanya ada tiga manusia yang sedang menunggu bis, duduk tertata rapi dengan latar hujan gerimis… dipaling kanan; saya, duduk santai menikmati dinginnya malam dengan sebatang rokok; ditengah, seorang mahasiswa bercelana jeans yang sobek pada bagian lutut mendengarkan mp3; diujung kiri, seorang ibu berpakaian sederhana membawa payung lipat.
Keheningan terenggut saat sang ibu berdiri untuk menghampiri kami berdua…
Si ibu yang terlihat lelah,
“maaf mas, saya mau jual cincin buat beli susu anak saya, ini cincin kawin saya, terserah mas mau bayarin berapa… asal harganya sesuai… tolong mas”
Mahasiswa bego dengan jeans robek yang melepas earphone dari telinga kiri lalu sibuk mengamati kegelapan jalan mencari kru tv atau setidaknya sebuah kamera tersembunyi…
“ibu dari tim ‘tolong’ ya? Ibu dari RCTI kan? Ya kaan?”
menyadari akan rendahnya tingkat intelegensi manusia yang duduk di tengah maka si ibu berganti memandang saya…
“mas, tolong mas… berapa aja, seikhlasnya…”
udah gila apa? Cincin kawin mau dijual?
saya sampai merinding dibuatnya, saat menulis ini pun demikian… ada rasa sedih yang tidak bisa saya lukiskan, mendengar kalimatnya tubuh saya seketika melemas dan rokok di jari pun jatuh di genangan air, bara api itu seakan menggambarkan sorot mata sang ibu; penuh kehidupan, lalu seketika padam digenangan air keruh yang menyisakan sekepul asap kelabu. Memang malam itu dingin sekali dan saya pun tidak membawa jaket… tapi ada perasaan dingin yang berbeda… sama seperti di film-film action saat orang yang kita cintai di tembak mati kawanan penjahat lalu rokok yang kita hisap terjatuh secara perlahan dan seketika dunia seakan berhenti berputar lalu berteriak sedih secara slow motion dengan suara aneh yang menggema dan menyayat hati…
semoga penggambaran saya bisa dimengerti…
kami sempat berpandangan walau hanya sekian detik untuk menyadari bahwa ada genangan air di matanya, ada kelelahan di tubuhnya, namun ada keberanian di hatinya…
surga pun bergetar saat kaki sang ibu meringis menahan berat badan, mungkin terlalu lama berjalan atau terlalu lama menahan susahnya hidup hingga cincin kawin itu rela dijual demi sekaleng susu… dalam hati saya bertanya, terbuat dari apa hati para penguasa Negara ini? Wait,… don’t answer… let me guess… uang dana kompensasi BBM dan dana RasKin sudah habis kepakai buat belanja di singapura ya?… Gusti Allah, nyuwun pangapunten… ternyata terbuat dari t*i.
sebuah sedan putih melintas yang lampunya menerangi lelehan kristal pada wajahnya. air mata itu pun menitik, merenggut singasana langit yang kini berhenti menetes…
saya sadar dengan segenap hati akan gejolak badai yang bergemuruh dihatinya… perlahan dia melepas cincin itu dari jari manisnya agar saya dapat melihat, dan harapan si ibu, untuk memberikan harga yang pantas agar dapat saya beli.
Sebuah cincin emas yang kilaunya telah memudar berhiaskan batu teramat mungil berwarna putih ditengah… saya menggenggam cincin itu pada telapak tangan saya yang kian gemetar, ada seorang lelaki yang memberikan ini sebagai tanda cinta, ada seorang lelaki yang menjadikan sekeping logam ini sebagai tanda pengikat dua hati… dalam sakit maupun sehat, dalam tawa maupun duka, dalam ketiadaan maupun kecukupan… sampai tangan maut memisahkan.
Dengan sedih saya tersenyum walau getir, saya juga mau yang seperti itu. Seorang suami, sebuah cincin pengikat hati, sebuah keluarga, dan setidaknya ibu tidak perlu repot-repot ke belanda hanya sekedar bilang ‘I do’
Tapi maaf ibu,
saya tidak bisa membeli cincin ini karena cinta tidak ada harganya…
Indonesia dan air mata
Friday, 26 November 2021
loading..
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


No comments