Cerita cinta

 


Lelaki itu duduk pada sebuah café yang menyajikan makanan dengan harga fantastis, sosok typical anak kuliah dengan kaos putih dan jeans lusuh membelakangi taman yang teduh. Sudah kesekian kali lelaki itu memeriksa jam pada handphonenya dengan perasaan gelisah lalu kembali merebahkan punggungnya pada kursi anyaman rotan.
Sedangkan diatas, Langit baru saja cerah kembali setelah beberapa saat diguyur hujan yang menyisakan aspal basah dan pepohonan yang menghijau disore hari.

Dia membuka menu saat pesanan saya datang; secangkir kopi dan sepiring spaghetti tuna yang hadir dengan margarine dan bawang putih yang berlebihan, kami saling bertukar senyum dan menyapa cuaca yang sangat indah saat langit menyisihkan semua awan dan menghadirkan biru abadi serta aroma rumput basah yang menggelitik. Tapi dia tidak tersenyum untuk itu, lelaki itu tersenyum karena cinta. Menunggu sang terkasih dengan tubuh yang letih setelah melewatkan segala rutinitas yang melelahkan, membiarkan menit demi menit berlalu dan menghiraukan segala rasa cemburu yang hadir tanpa arti.

Cinta,
Telah ribuan kali saya bertanya; apa itu cinta?
Saya tidak dapat menemukan jawabannya tapi saya telah melihat indahnya.

Sebuah email dari Portugal pernah mampir di inbox saya dan menanyakan;

“saya tidak dapat lagi mengeluarkan air mata, apakah saya telah kehilangan rasa untuk mencinta saat sang terkasih lemah tanpa daya?”

saya pun bertanya dalam hati; pernahkah saya mencinta seseorang sedemikian dahsyat?
dapatkah kita kehilangan rasa untuk mencinta? Saya saja tidak dapat menjelaskan apa itu cinta… bukankah cinta slalu ada didalam jiwa, tapi bagaimanakah bentuknya?
Apakah cinta seperti udara yang kita hembus lalu masuk memenuhi paru-paru, dan udara yang sama membelai wajah seorang pecinta… cinta ada didalam dirimu, didalam diriku dan cinta ada dimana-mana. Cinta yang sama yang ada dirimu wahai lelaki yang memesan sebotol teh lalu berucap ‘saya masih menunggu pacar saya’ kepada pelayan.

Cinta mengikat dua hati; seperti tertulis pada beberapa buku yang setelah saya baca menjadi terkesan mengerikan. Cinta seakan menjadi sebuah rantai yang membelenggu dan menggiring kita pada lorong panjang yang penuh pengorbanan (supernova; dee) yang hadir dalam bentuk teralis baja memenjarakan hati dengan vonis setia sampai mati.
Benarkah demikian?
Bukankah kalimat ini terlalu berlebihan,
Saya selalu terbuai melayang saat mendengar teman berkata “suami saya berkata…” “pacar saya menelpon…” blah blah blah dan berbagai kalimat yang mengartikan bahwa diri ini milik seseorang, bukan lagi dua jiwa melainkan satu walau tubuh itu terpisah tapi jantungnya berdenyut dengan nafas yang sama… bukankah cinta itu indah?
Dua sosok yang lahir dari benua yang berbeda dan bersatu atas nama cinta, berbagi rahasia termasuk panu di punggung hingga mimpi indah masa depan, menghabiskan waktu bersama seiring rambut yang memutih hingga maut memisahkan.

Dalam perjalanan pulang saya kembali merenung (baca; melamun di dalam bis sambil senyum-senyum sendiri lalu orang-orang sekitar berpikir kalo saya gila) tentang kisah asmara saya yang tak pantas untuk disebut kisah asmara;
Hanya segelintir wajah yang pernah bertengger di hati saya namun rasa itu sangatlah biasa bila dibandingkan dengan rasa cinta teman-teman yang lain terhadap kekasih mereka yang rela menelpon berjam-jam atau bahkan menanyakan perihal makan siang, disatu sisi saya menanyakan seberapa pentingnya mengetahui menu makan siang seseorang, dengan ayam gorengkah atau sambal pete? Akan hambarkah rasa cinta di hati dengan segala kejenuhan yang penuh dengan obrolan statis?

dan juga sebuah bentuk rasa perhatian yang lain; seorang teman sempat memamerkan arjunanya kepada saya, all she has to do is call dan sang arjuna akan siap antar jemput kemanapun sang dewi inginkan… disebuah warung bakso mereka duduk disudut, sang arjuna melahap terigu rasa sapi berbentuk bola sedangkan sang dewi menyeka keringatnya. Maukah sang arjuna mengantarkan sang dewi ke ujung dunia dan melahap ambrosia diatas pelangi? Hal ini lah yang membuat saya takjub; rasa cinta seseorang yang demikian besar terhadap kekasihnya hinga rela, … bukan, bukan rela, bukan keikhlasan, ataupun keharusan, melainkan sebuah keinginan untuk bersama, sebuah rasa untuk melindungi, sebuah _______. Saya belum mampu menjabarkannya, rasa itu sungguh indah saya rasakan.

Kembali, pada sebuah warung bakso tempat seorang homo yang duduk didepan tv berukuran mini sambil membelah bakso urat dengan sendok menjadi ukuran-ukuran kecil dan memandang ke mangkok yang penuh kuah berwarna merah tapi dengan tatapan kosong… saya tersenyum sinis walau rasa iri itu tergambar jelas di hati, ingin juga ada seseorang yang menanyakan apakah saya sudah makan atau belum, lalu berbicara panjang lebar di telpon tentang hal-hal yang tidak penting seperti langit yang biru, dan lihatlah sayang… laut juga berwarna biru, dan pembicaraan yang lama itu pun diakhiri dengan debat; “kamu dong yang tutup duluan… nggak ah, kamu aja… kamu dong… kamuuuu…. Nggak sayang, kamu yang tutup duluan…” dan ibu pun menjadi executor yang merebut gagang telpon dan membantingnya namun kita masih tersenyum penuh cinta walau tidak sempat memberikan kecupan mesra via udara dan rasa hangat di dada tetap membara walau diselingi omelan ibu akan membengkaknya biaya telpon…


Aint love grand?


No comments