Dunia seperti
berhenti berputar dan sang penguasa alam seakan tidak memberi restu akan
pertemuan ini dengan menambahkan efek dramatis seperti film kartun
jepang; serta merta daun-daun kering berguguran disekelilingku. Duh
Gusti ono opo iki. Tanganku mencengkram erat botol pere ocean dan
memohon segenap kekuatan untuk menyokong kakiku agar tetap berdiri
tegak. Setelah sekian lama kami berpisah dan kini dipertemukan kembali
ditengah Raffles Square menuju esplanade pada sabtu sore dengan kondisi
berkemeja rapi namun tubuh belum tersentuh air dan mulut beraroma naga,
singkatnya hari itu aku tampil serupa gembel walau wangi seperti diguyur
selusin parfum.
Sungguh dia
sangat cantik, dengan gaun terusan kotak-kotak besar berwarna biru
terkesan santai. Mereka datang menghampiriku pelan seperti yin yang, dia
tersenyum dan kau cemas dengan sebaris lipatan pada dahimu. Itukah
istrimu sang wanita yang kau pilih untuk menggantikan aku?
“Hi you must be Ellen, I’m Djohan” sapaku untuk memulai pembicaraan seraya menyodorkan sebentuk jabat tangan yang terpaksa.
“Honey, this is
Mr. Kraisler, we used to work together” ucapnya memperkenalkan aku
kepada istrinya. Ketegangan begitu terasa diudara seakan bisa diukur
dengan skala richter. Tapi aku tertawa, menertawakan kegelisahannya yang
tak beralasan, menertawakan sikapnya yang dingin dan cara dia
menggunakan nama keluargaku agar terkesan formal.
“Faites vous me manquez?” ucapnya hampir berbisik dengan nada berhati-hati. “Non!” jawabku singkat.
“Well its been a
pleasure meeting you again Mr. Poole, Ellen, but I have to go” pamitku
kepada mereka berdua sambil menyumbangkan sebuah senyum imitasi dan
menyeimbangkan formalitas absurd. Tak perlu kau gunakan bahasa alien
untuk menutupi sesuatu yang telah berlalu karena aku bukan rahasia, yang
kita lakukan bukanlah perselingkuhan, karena aku hadir sebelum cincin
di jari manismu tapi kau memilih menutupinya seakan barang kotor yang
tak akan bersih walau dicuci dengan kekuatan 10 tangan. Aku maklumi,
Istri mana yang tak berang bila tahu penis suaminya pernah berlabuh
dipantat orang.
Kami berpisah,
atau lebih tepatnya memisahkan diri. Hilang sudah semangat 45 untuk
menonton Giselle yang sudah datang jauh dari belahan bumi lain walau
hari ini adalah hari terakhir pertunjukkannya. Aku berbelok ke Queen
Elizabeth walk yang didominasi oleh ibu-ibu dengan kereta bayinya,
menikmati tarian tupai yang berlarian bebas dari pohon ke pohon dan
beberapa ekor gagak mengeluarkan suara menyeramkan diatas pohon saga
yang bunyinya mengingatkan aku akan malam kematian.
Di air mancur Tan
Kim Seng aku berteduh, kembali mengingat semua yang berawal dari sebuah
perayaan tahun baru diatas sebuah gedung, kami berciuman diakhir
countdown berlatar puluhan orang meniup terompet dan sobekan kertas
warna-warni menghiasi udara.
“Andrew, did you just kiss me?” Tanyaku dengan nada girang seperti gadis belia,
“Yeah I know, its must’ve been the alcohol kicking in” ucapnya diikuti untaian alasan.
Malam itu Kami
tertawa, kami gembira, lalu kami bercinta dan hampir setahun sesudahnya
berakhir dengan aku menangis. Andrew mengakhiri sepihak, yang katanya
hubungan ini aneh dan tidak rasional serta segala sumpah serapah dan
bilur biru di pundak kananku. Kalimat I’m not a f**king faggot masih
terasa di kuping, terasa panas dan kebas. Ruang tamuku berantakan dan
bantal-bantal di sofa sudah pindah entah kemana,
“You make me crazy, got my mind all messed up” ucapnya seraya membanting pintu.
Seperti inikah
rasanya bila mental seseorang diperkosa? Perpisahan memang menyakitkan
tapi dengan memporakporandai rumah seseorang adalah berlebihan walau
dengan kalimat I met someone else menurutku sudah cukup.
Sore hari pada
saat waktu bergeser dari terang menuju gelap, sebuah pesan singkat
menghampiriku menginterupsi seorang ibu berambut pirang yang sedang
menjelaskan bahwa Januari masih dingin di negara asalnya, si ibu terdiam
memberiku kesempatan untuk membaca isi pesan tersebut . Nama Andrew
Poole muncul dilayar, rupanya dia belum menghapus nomerku, dan entah
karena alasan apa belum juga kuhapus nomernya.
“I’m not happy with my marriage” satu kalimat singkat.
Tak kubalas, tak
kugubris, aku lebih memilih membantu si ibu mendorong kereta bayinya ke
arah seafront, mobilnya diparkir disana begitu katanya dan segudang
kalimat tak penting lain yang aku konsumsi dengan baik hanya untuk
mengalihkan pikiranku. Lalu pesan singkat yang kedua pun datang.
Sepanjang
perjalanan pulang tak henti-hentinya aku mengintip di layar, setiap
beberapa menit, seakan memiliki ritme aku membacanya. Ada perasaan
tenang, tak lagi amarah. Tak ada cinta namun juga tak ada benci, hatiku
berhenti disebuah kehampaan. D a m a i. Mungkin Tuhan memang sengaja
mempertemukan, mungkin memang sengaja memberi pelajaran, agar aku
belajar memaafkan.
Pesan singkat yang kedua “I miss you!” begitu katanya…
Pertemuan
Friday, 26 November 2021
loading..
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


No comments