Ayahanda tercinta,
Bagaimana liburan kemarin? saya harap menyenangkan, dapat saya bayangkan ayah dan ibu liburan berdua di daerah terpencil lalu memadu kasih tersungkur dalam pecutan asmara dan bergumul didalam jernihnya air laut.
Ayah, terpaan badai kembali mengetuk pintu kedamaian saya yang sempat retak, saya kembali di jadikan pion dalam percaturan politik kantor.
Pihak auditor menanyakan tentang saham yang ada di perusahaan, lalu saya di beri perintah untuk menjawab email tersebut. saya memang bertanggung jawab akan audit perusahaan. Agak aneh untuk saya sebagai seorang akuntan di beri perintah untuk menjawab email yang menanyakan tentang saham yang menurut hemat saya sehurusnya lahan bermain anak-anak legal.
Setelah meminjam berkas untuk mempelajari medan perang, saya menemukan bahwa ada saham yang dijual sekian lembar ke sebuah trust Optimum Plan yang berada di UK, saya konfirmasi terakhir kepada Elly akan keberadaan saham tersebut yang di jual, lalu pertanyaan saya (saya merasa tidak dijawab) dicounter dengan kalimat, "apakah kamu tidak membaca berkas yang kamu seharusnya pelajari, kamu baca dulu hingga selesai, trust optimum itu dari pension plan nya boss yang di jual ke perusahaannya yang di Hong Kong, jadi pake uang pensiunnya dia buat dana di sana"
Saya double confim ke beliau bahwa ada penambahan saham, setelah saya kirim email ke pihak KPMG lalu bombardir kebenaran getir pahit menyeruak ke dalam inbox saya, saya benar sejak awal, memang ada saham yang di jual 20 lembar dan bukan penambahan saham, lalu mengapa harus saya yang menjawab email terkutuk tersebut.
Johan made a mistake, begitu kata Lionel. Memang bila di lihat dari alur emailnya tidak terlihat saya mempelajari berkas tersebut dengan mata lelah dan kejernihan yang pudar, tidak terlihat pertanyaan saya diplintir dengan elegan sehingga bibir kebenaran terjahit. Di akhir drama kolosal yang ditutup dengan turunnya gorden merah, kami semua membungkuk, tepuk tangan riuh dari penonton membahana, namun semua mata terpukau oleh permainan cantik Elly yang di akhir sandiwara menjawab dan mengkonfirmasi semua pertanyaan dengan benar, bertolak belakang dengan skenario berdarah yang dia suguhkan kepada saya.
Dibelakang panggung saya duduk tersungkur di sudut gelap, berbisik pelan mencari perhatian pada sebaris kegelapan. ?ternyata bukan 1000 ditambah 20, melainkan 1000 dikurang 20, saham itu di jual?
Dibelakang panggung saya duduk tersungkur di sudut gelap, sakit yang kurasa bukan drama semata, ada yang mengganti pedang plastik dengan pedang baja, mungkin agar aktor ternama semakin berkilau persetan dengan figuran, mungkin agar drama menjadi mempesona bila menggunakan darah nyata. tapi mengapa harus darah saya?
Para penonton satu per satu beranjak pergi, ada yang tertawa, ada yang berbicara dengan sesama penonton saat menuju pintu keluar, namun labih banyak lagi wajah penonton diam tanpa expresi, tontonan sampah seperti ini tak layak untuk di komentari ataupun dikonsumsi. Bungkus popcorn berserakan yang berarti tugas rumah bagi para cleaning service berseragam biru yang bermulut manis di depan dan mengumpat sumpah serapah di belakang. Sementara pemain sandiwara lainnya memerankan peran tambahan di luar pentas, senyum palsu untuk mengucap selamat kepada sang primadona baru. Saya berdiri di tengah kerumunan orang sambil memegang secangkir teh melati dengan aroma jempol kaki, lalu seorang sahabat pun datang menghampiri sambil tertawa, ?Johan?, dia berkata,?inilah realita dunia, ada yang membunuh ada yang di bunuh dan ada yang menjadi vegetarian, ada yang munafik ada yang sirik, ada yang penjilat ada yang sok bermartabat, ada yang alim ada yang hancur dari anak raja sampai anak pelacur, inilah dunia dengan semua percikannya, kemanapun kamu melangkah kau akan menemui hal yang sama?.?
?
Ayah, malam itu hati saya seperti kebas, seperti kehilangan daya untuk percaya. Saya melabuhkan tubuh saya di sebuah warung dekat pantai di daerah melasti. Terlalu enggan untuk pulang, terlalu enggan untuk peduli. diatas kursi bambu panjang saya meletakkan segala penat ditemani satu dua penjaga keamanan yang sedang sial mendapat shift malam dan bersama kami menikmati nikmatnya tamparan kopi bali pada malam berbintang yang dingin. Yang duduk di pojok berkumis dan banyak tertawa namun mengeluh dengan gaji delapan ratus ribu harus menghidupi sebuah keluarga, sedangkan yang kurus berseragam hitam dengan mata berat seakan immune akan kafeine berusaha menghibur temannya takala enam tahun pernikahannya berlalu tanpa buah hati untuk melengkapi. Saya berbohong saat mereka bertanya bila saya mau berbagi cerita, saya bilang ?tidak ada?. Permainan politik kantor dengan penjualan saham melalui solicitor yang terbentur penambahan atau pengurangan dana dari international pension scheme terlalu rumit untuk dijelaskan dan saya sedang malas untuk berbicara. Saya hanya ingin tersenyum, ah dunia dengan segala permasalahannya. Saat pulang, sambil menyalakan mesin saya memandang ke langit yang gelap di taburi kerlip dan bercerminlah dibawahnya lautan yang pekat hingga ujung cakrawala. Dengan izin Tuhan semesta alam, Seperti bintang diatas saya akan bersinar, dan bila saya menyerah kalah di sebuah kolam empang lalu bagaimana saya bisa mengarungi lautan lepas. Dalam perjalanan pulang saya kembali tertawa menyulam memori hari tadi, gertakan sekecil itu? Is that all you can do? ?????????
Bali, 12 Juli 2010,
Keluh kesal seorang anak nakal,
Sembah sujud,
Anakmu
Katanya gak akan berpolitik kantor?
Friday, 26 November 2021
loading..
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


No comments