Di kutip dari sebuah blog yang telah lama saya delete
Pada saat menjelang azan subuh berkumandang saya hampir tiba dirumah, hening yang syahdu. Sambil mengucapkan 'hati-hati dijalan' kepada teman yang mengantarkan saya menyalakan sebatang rokok dan wave good bye menghadap punggung manusia botak yang berlalu pelan dengan motornya.
Pada sebuah pos satpam, tiga orang terbujur sedangkan televisi masih menyala menyajikan acara nggak penting, dua tertidur pulas dengan sarung menyelimuti kaki mengharap nyamuk tidak mampir menghinggap sedangkan yang satu dengan cangkir kopi ditangan dan rokok masih menyala pada sebuah asbak yang kepenuhan menampung abu dan puntungnya.
'pulang malem lagi nih?
'nggak dong… jam segini mah pulang pagi'
'uang rokoknya dong?'
'halah, gw aja lagi bokek'
Geliat kehidupan sudah mulai bangkit pada masjid setempat, nyala kaset seorang alim yang sedang membaca al Quran yang (mungkin) sengaja sedikit keras yang menurut saya terlalu berlebihan, jam dinding pada sebuah tembok putih menunjukkan pukul dua kurang empat lima yang menurut saya masih terlalu dini untuk membangunkan orang salat pun saya yakin tidak semua penghuni komplek perumahan ini salat sedangkan ada manusia lain yang memakai kalung salib melingkar pada leher mereka… sampai detik ini saya masih penasaran dengan benak para saliber… marahkah mereka dengan kebisingan ini… ataukah saat mereka tersenyum dengan kalimat sok understanding yang menurut saya fiktif mengingat islam adalah jumlah mayoritas di negeri keparat ini. Saya saja sampai hapal… Bunyi buzzing seperti tawon ngamuk pada tiga menit pertama lalu kaset itu kembali mendendangkan kalimat tuhan lalu kembali nge-buzz selama beberapa detik… pertanda kaset sering diputar atau memang sengaja beli kaset murah dari dana kotak amal salat jumat sebagai bentuk penghematan terhadap rumah Tuhan.
saya sempat bercengkrama disana dengan satpam yang sengaja menggondrongkan kumisnya, obrolan standar agar tidak dibilang sombong bila langsung kabur bin ngacir, obrolan standar berisi 'pagi-pagi kok udah berisik ya…' dengan senyum ketus sebagai pelengkap dan ditutup oleh satpam berbaju Manchester united dengan '…kayak nggak tau aja orang-orang sini…'
sejarak langkah mendekati rumah saya bertemu dengan seorang petinggi di perumahan saya… saya duluan menyapa dengan sopan… 'asalamualaikum pak haji…' tapi dia terdiam berdiri kaku sambil mengamati saya dalam diam
dia:
baju koko, sarung kotak-kotak standar bermerek gajah duduk, peci putih berbentuk setengah bola, sandal jepit imut pada kakinya, tak lupa sebuah tasbih pada tangan kanan dan sajadah pada tangan kiri
saya:
kaos hitam, jaket biru dari bahan denim, celana jeans yang belel abies, dan sepatu converse hitam yang saya tambahkan hansaplast biar keliatan nge-punk dan tak lupa sigaret kretek pada tangan
dia:
wangi parfum malaikat subuh
saya:
bau asap rokok campuran dari djarum super dan dji sam soe
dia:
stereotype seorang alim ulama
saya:
perwujudan nyata seorang gembel
dia:
terlihat seperti sedang menuju surga
saya:
… kebalikannya
ucapan walaikumsalam dia ucapkan setelah hening selama lima detik dan kami pun bercengkrama
"astagfirloh… kamu baru pulang jam segini dari mana?"
'dari rumah temen pak haji'
"rumah temen apa rumah temen? Kamu abis disko dimana?"
"anak jaman sekarang udah nggak bilang disko pak haji tapi dugem"
Obrolan diselingi dengan istigfar dan gelengan kepala dari kubu sana,
"ya udah cepet kamu ke masjid trus ambil wudlu…"
"nggak ah pak, capek, salatnya dirumah aja…"
"eh kamu kalo dikasih tau sama orang tua…"
"lho, bapak kan bukan orang tua saya!!!"
jujur saja, dengan manusia ini saya tidak mau mengobrol berlama-lama… sungguh saya paling benci dengan tipe manusia yang jurus mautnya 'kamu nurut sama orang tua!!!, kamu kalo dikasih tau sama orang tua… , kamu tau apa-kamu masih kecil, dasar anak jaman sekarang…"
BULLSHIT…
Mohon patahkan argument saya, menurut saya orang tua adalah manusia juga yang makan nasi berak tai dan juga bisa salah…
Nurut sama orang tua pastilah tapi toh kita punya pendapat lain yang menurut kita benar tapi saya paham bila (pasti anda akan bilang…) memberi tau orang tua ada etikanya, dan saya berpendapat bila orang tua juga harus menunjukkan etika bila memberi tau kepada yang lebih muda karena dia memberikan contoh bagaimana yang muda bersikap… tak heran bila negeri ini makin busuk bila panutannya ngomong dipantat doang… dan adakah oh adakah kepastian dan jaminan bila orang tua pasti-100%-tak terbantahkan benar dan tak pernah salah??? Btw, saya memang dari rumah teman dan harap dicatat bahwa saya tidak pernah (kata 'tidak pernah' tercetak tebal, digaris miring, digaris bawah, dan di-stabilo warna merah darah) berkunjung ke tempat bising seperti club ataupun tempat dugem lainnya… disamping tidak punya uang untuk berkunjung ke sana juga saya merasa doesn't belong aja… pastilah anda paham bila ngobrol terlalu lama dengan teman sampai lupa waktu tanpa sadar sudah tengah malam maka sekalian aja sampai pagi… tanggung.
* * *
pagi itu saya berjalan bersama ibu, bunda ke kantor sedangkan saya ke warung terdekat mencari asupan tembakau…
tak jauh dari kami melangkah menyapulah seorang pensiunan PNS yang nota bene pak haji subuh tadi sedang mencegat seorang pembantu belia asal tasik... mereka mengobrol sangat intim, tak jarang tangan si pensiunan PNS menyubit gadis itu… kata ibu saya itu adalah tanda keakraban… kata saya itu tanda seorang pensiunan bejat yang masih ingin menggagahi vagina muda tapi tanpa daya tak punya tenaga… typical bandot tua.
Sang pembantu belia beranjak pergi… ibu menyapa si pensiunan PNS slash sok alim kurang kerjaan… lelaki tua itu berdiri sambil memegang sapu yang bentuknya sering digambarkan seperti sapu nenek sihir versi inggris… si pensiunan tua balas menyapa… lalu berkicau…
Si bandot dengan logat jawa:
Ibu, tadi pagi saya ketemu anak ibu pas berangkat salat subuh… pulangnya kok malem banget… kayak anak apaan aja…
Saya dalam hati yang emosinya tersentil; "maksudnya anak kaya apaan? Sigh, dia aja nggak tau kalo saya homo udah dibilang kayak gini gimana kalo tau saya homo, entah dibilang apa"
Sang ibu yang telah mengenal teman2 hetero saya dan tipe pergaulan saya:
Nggak apa-apalah cuma kumpul sama temen-temennya aja, biasalah anak cowok… lagian juga nggak macem-macem kok
Si bandot ngomporin nyokap:
ibu bisa bilang nggak macem-macem dari mana? Kayak nggak tau anak muda aja… rumahnya deket mesjid tapi nggak pernah salat dimasjid… anak ibu tuh kering iman"
si ibu terdiam:
benak jail saya membayangkan isi pikiran ibu…
"aih, yang merasa beriman aja nyubit-nyubitin pembantu lewat gimana kalo CS-nya setan?"
saya, yang merasa difitnah sebagai cs-nya setan:
maksud loe apaan?
Si bandot yang sok alim:
Kamu tuh kurang pergaulan sama orang mesjid… mana pernah kamu akrab sama orang-orang mesjid, mana pernah kamu ngaji atau yasinan di mesjid?
Saya menyerang:
TAI… ngapain kumpul sama orang-orang belagu kaya loe, mulutnya tengil kayak mulut perempuan, ngapain sih loe sibuk ngurusin kehidupan ora… … …
Ibu memotong:
Hush, kamu mulutnya tuh minta ditampar ya?
Saya membela diri:
Mamah ngapain sih, mamah dirumah juga suka komplain sama orang-orang mesjid yang suka nyetel radio kayak nggak punya otak sekarang didepan orangnya sekalian aja ngomong…
Ibu terdiam sambil cemberut, tertohok pada lidah… skak mati
Si bandot yang tangan kanannya bertolak pinggang dan yang kirinya memegang sapu:
Hee… kamu tau nggak kalo kamu dengerin kamu tuh juga dapet pahala!!! (dengan tiga tanda seru)
Saya yang bernafsu … untuk menampar:
Iya, gw tau…
Ibu murka:
HUSH…!!!
Saya melanjutkan:
Iya kalo yang baca al quran manusia tapi ini kan kaset… loe ngaji-kan tiap minggu, skalian tanya sama pak ustad kalo orang baca al quran tapi ngeganggu orang tidur dapet pahala apa dosa???
Ibu berwajah tidak karuan:
Udah… malu sama tetangga…
Saya bermuka polos:
Ngapain malu… yang belaga sok alim tapi bandot tua suka godain pembantu lewat kan bukan saya…
Si bandot dengan wajah merah seperti kepiting rebus:
… … … … … …
* * *
pukul sepuluh malam pada sebuah meja makan didapur, ayah sedang membaca berkas-berkas kerja sambil menikmati jus mangga sedangkan saya menyeduh teh pada sebuah teko kaca…
ayah yang matanya pada lembaran kertas:
kamu berantem lagi sama pak kadarusman?
Saya yang mengaduk teh:
Iya…
Ayah melepaskan kaca matanya dan mengundang saya untuk duduk disampingnya:
Kenapa?
Saya duduk lalu menggaruk kaki:
Biasa lah… toh dia yang (selalu) mulai duluan
Menaruh lembaran kertas pada meja lalu bersender pada kursi:
Saya tau kalo kamu nggak suka sama dia, saya juga nggak suka, tapi yang namanya tetangga jadi senyum aja walau hati dongkol
Saya yang terlalu lelah untuk berdebat:
Jadi papah ngajarin saya untuk jadi munafik
Kedua tangannya bertumpu pada meja sambil menyeruput jus mangga:
Lho… bukannya munafik… tapi beginilah Indonesia… dimana bumi diinjak disana langit dijunjung, jadi yaa… beginilah Indonesia… coba kamu perhatiin orang-orang sini atau nggak tanya bibi, si ibu anu ngejelek-jelekin si ibu ini ke ibu-ibu yang lain tapi kalo anu sama ini ketemu coba perhatiin akrabnya apa… hampir kayak udah temenan dari kecil… si bapak anu yang jambu airnya di colongin sama bapak ini tetep ngobrol biasa aja kalo ketemu sambil nyindir halus 'aduh, jambu saya dimakanin kampret nih pak, rasanya pengen saya racunin aja…'
Saya yang enggan dicekoki gossip up to date kompleks perumahan:
Ya itu kan munafik juga namanya…
Ayah bermuka serius:
Kamu belum tau… pada saat kamu terjun ke masyarakat maka mau nggak mau inilah topeng yang kamu pakai… percaya deh…
* * *
pukul delapan malam pada sebuah balkon, kami berdua sedang menikmati sejuknya udara pasca hujan… adik duduk pada bangku basah dengan gitar menyanyikan entah lagu siapa dan saya berdiri mengamati seorang alim ulama kafiran yang melintas sehabis salat isya…
dia mengangkat sarungnya sampai ke betis lalu berdiri tepat didepan rumah dan berucap keras ke arah balkon:
SHALAT!! (diucapkan sebagai kalimat seru…)
Adik yang merasa terganggu:
UDAH!! (diucapkan dengan nada keras pula ke arah manusia yang berdiri di bawah…)
Emangnya salat harus laporan dulu ke dia apa…??? (diucapkan dengan nada mengejek dan tiga tanda tanya)
* * *
Hadist riwayat Bukhari-muslim dan abu daud dari hudzaifah Al-yamani:
Duduklah rasul dengan para sahabatnya… … lalu sahabatnya bertanya,
"ya Rasul. Kejahatan apa yang akan datang kepada kami setelah kami bebas dari jahilliyah?"
"kejahatan itu ialah para pendakwah yang menyeru manusia ke pintu neraka. Barang siapa menyambut seruan itu mereka niscaya mereka akan dilempar ke dalam neraka.
Lalu sahabat bertanya:
"apa yang harus saya lakukan bila saya menghadapi keadaan yang demikian itu?"
Jawab Rasulullah:
"hendaklah kamu teguh pendirian dengan jamaah islamiah dan imamnya"
sahabat kembali bertanya:
"bagaimana bila tidak ada lagi jemaah islamiah dan imamnya?"
Rasulullah menjawab:
"tinggalkan golongan itu, walaupun kamu harus menggigiti sebatang pohon kayu sampai kamu mati dalam keadaan demikian."
Dhuh mohon maaf bila saya terkesan berlindung dibalik sebuah hadist tapi bila berkenan izinkanlah saya menuangkan isi hati pada sebuah blog gratisan…
Menurut saya susah sekali mencari pemuka agama yang benar-benar pemuka agama, zaman sudah sangat berubah… pemakaian topeng dimana-mana… enggan rasanya menjadikan sembarang ustadz untuk dijadikan panutan…
Kisah nyata:
Pada sebuah salat jumat dibilangan Jakarta timur… di gedung damri tidak jauh dari gramedia matraman… seorang khatib naik ke mimbar…
ditempat itu terdapat beberapa universitas… UI, YAI, BSI, STEKPI, de el el… jadi bisa dibayangkan ada berapa kepala yang berpikir kritis…Singkat kata sang khatib menyemburkan hawa panas pada jumat yang sejuk… sang khatib salah tempat untuk berceramah sok alim
Alkisah sang khatib menyerukan bahwa generasi muda telah lari dari agama… lalu mengejek masyarakat yang tidak menghargai ulama karena para ulama hanya diberi selembar amplop sedangkan pemuka agama lain mendapat fasilitas mewah (itu kata dia)……
Perkataan sang khatib terpotong saat salah seorang mahasiswa entah dari universitas mana berdiri pada lautan manusia yang duduk bersila…
"Intrupsi… Intrupsi…" semua mata memandang ke arahnya… saya pun kaget, hehehehe… baru tau deh di salat jumat bisa intrupsi… bayangkan sodara-sodara ada yang memotong khatib pada kutbah jumat…
"bapak bisa bilang darimana generasi muda lari dari agama… liat aja, kami mayoritas disini dan kami nggak lari… tapi lucunya, saya bisa buktiin SEKARANG JUGA (dengan penekanan pada intonasinya) kalo bapak menjual agama, barusan bapak bilang kalo pendeta pada naik mobil semua sedangkan penceramah hanya dikasih amplop yang ala kadarnya… apa maksudnya kalo bukan menjual agama, setau saya berdakwah kewajiban… kayak begini naik ke mimbar? Yang kutbahnya cuma ngomongin amplop doang?..."
sang intruptor keluar dari bangunan yang diikuti dengan tujuh puluh lima persen dari total jamaah termasuk saya… kami membatalkan niat salat jumat untuk diganti dengan salat zuhur setelah mendapatkan konfirmasi dari satpam setempat bahwa parkiran mobil dibelakang suci untuk digunakan salat.
Menurut saya tipe-tipe manusia yang masuk surga bukanlah yang berbaju serba putih dengan sorban pada kepala… bukan pula yang harum semerbak seperti kebun mawar… dan bukan pula yang naik ke mimbar tapi ngomongin amplop… tapi menurut saya yang insya ļ·² masuk surga adalah tipe-tipe penjual es cincau yang saya temui sabtu kemarin…
Dia menumpang tidur pada sebuah teras masjid selepas salat ashar,
Saya membangunkannya …
Saya mengganggu tidurnya…
Tapi dia tersenyum dengan cerah seraya berucap alhamdulillah…
Dia tidak punya kesempatan untuk berbuat khianat
Bila es-nya kurang manis maka si konsumen akan langsung menegur…
Bila cincaunya basi maka tidak mungkin dijual…
Tapi bila seruan salat berkumandang dia lepaskan gerobaknya pada pinggir jalan untuk segera menghadap Tuhannya…
Bila gerobaknya dicuri atau kehilangan konsumen karena salat,
toh ada Tuhan yang maha mengatur rezeki…
Menjalani hidup seharusnya seperti es cincau yang saya nikmati… adem plong.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


No comments