The First of it all


Selatan Café yang berpintu besar berwarna biru dengan jendela kaca dikedua sisinya yang memberikan cahaya kuning dari arah dalam lalu jalan setapak sejauh 3 meter yang diselimuti kegelapan. Aku tersenyum kearahnya dengan cepat karena grab car sudah datang, apakah ini hari terakhir aku akan bermain kesini? hanya karena 100PM aku menyambangi daerah yang jauh ini dari Bekasi dan sudah berhari-hari lamanya pikiran untuk keluar dari 100PM sudah terbersit di pikiran atau bahkan sejak tahun kemarin. 

Ada beberapa teman baik disini, dan aku pikir bisa menambah teman semenjak aku vacuum juga dari OV, namun banyak sekali waktu yang tersisa untuk sebuah festival yang mengusung seni atau lebih tepatnya film dan tidak mendapatkan sesuatu darinya, walau sebagian orang mendapatkan credit.
Niat awal hanya menyerahkan map dan keperluan festival dari Selatan Café ke Erasmus karena ini screening terakhir, mencoba beberapa kali mengirimkan pesan singkat lewat whatsapp agar siapapun di EH mohon jangan pulang dulu, terlalu enggan untuk menenteng ini semua ke rumah.
Aku melewati jalan yang sama seperti sebelumnya, jalan yang aku sebit sebagai kompensasi atas kekayaan warga kemang, sebuah perempatan dengan lampu marka jalan yang lampu hijaunya hanya menyala selama 5 detik. 

Sesampainya di Erasmus yang sudah hamper tutup aku dihadang oleh satpam terakhir yang menanyakan kedalam apakah aku diperbolehkan masuk, setelah memohon bahwa hanya mendrop barang. Oxal dan Maul menyambutku di gerbang besi menuju bangunan utama, mereka siap berangkat untuk hospitality tamu yang kami memnyebutnya dengan permabukkan. Hal ini sudah dibahas di group bahwa tamu festival menginginkan bersambang ke club malam Jakarta dan awalnya aku tolak karena mengingat umur, namun setelah bertemu oxal bahwa dia hanya akan disana maksimal pukul 1 dini hari lalu pulang mengubah keputusanku, setidaknya ada teman untuk pulang.
Ada pikiran lain yang pelan pelan berhumbus ke kepala, fakta bahwa festival ini tidak pernah transparan, bila sebagian orang bisa menikmati uang ini untuk entah apa pun itu pun aku juga bisa dan akan.  Maka dari itu mulailah petualanganku untuk pertama kali…

Petualangan saya dimulai dengan penjemputan tamu festival dari India, Sridar, yang saat itu menginap di Whiz Hotel yang beridiri tepat dihadapan kekini. Saya, Elyta, Oxal, Maulana, Sammy lalu kemudian Farhan datang menyusul. Ada beberapa wajah yang entah siapa, mungkin bagian dari tamu festival. Kami menunggu Sridar di lobby terduduk pada bangku yang menyerupai croissant, Maulana yang masih terfokus pada handphonennya sesekali mengumbar keadaan diatas, sang tamu bersama seseorang, habis mandi, bersama lelakinya, lelah setelah bercinta, sebatas pergunjingan bebancian 100% manusia.

Lelakinya Sridar berwajah mas-mas Jawa, kurus, dengan wajah yang sangat biasa. Apakah teman kencan dari kitab kuning, apakah pemerjemahnya – namun semua pembicaraan menggunakan bahasa Inggris dengan tanpa adanya terjemahan, namun wajah Jawa itu tetap saya temui sampai festival berakhir. Entah siapanya.

Dengan Grab Car kami meluncur kedaerah Hayam Wuruk, sempat tersasar karena Oxal lupa bahwa tempatnya pindah. Tempat ini selalu tersebut sebagai tempat berkumpulnya binan, dan sudah lama ingin bertandang kesini, dulu sempat janjian dengan Riki dan Diyan tapi belum pernah terlaksana karena kesibukan masing-masing, dan malam ini terlaksana, untuk pertama kali saya melangkah ke Moon Light.

Moon light berdiri di pinggir jalan yang kanan kirinya berjejeran ruko restoran dengan suasana pecinan begitu kental. Setibanya kami disambut oleh Sammy dan Wafi, bagian dari hospitality team. Gedungnya berwarna kekuningan, entah apakah pengaruh lampu jalan, akankan warnanya berbeda saat matahari bersinar?, ada beberapa hotel reddoorz didekat club ini, sempat terpikir akan menginap dan membayar untuk sex namun akal sehat dan dompet mampu menyadarkan saya.
Sebagian dari kami unprepared, dengan tas besar tidak memungkinkan untuk masuk kedalam sebuah kelab malam maka Elyta dan Maulana diperbantukan untuk menjaga tas selama kami naik keatas. Tiket masuk kesekitas 80K – 100K per pax. Binan lalu lalang, dan orang disana sudah sangat terbiasa, inilah wajah malam sesungguhnya dari ibukota.

Terletak di lantai paling atas, kami harus menaiki tangga yang di tengah jalannya dijaga oleh sang mami dengan beberapa asistennya, tiket masuk dibayarkan oleh festival dan dibubuhkan stempel di tangan kami seperti masuk dunia fantasi.
Moon light adalah club yang sudah lama berdiri, mungkin pioneer club binan di Indonesia dan dengan harga tiket yang relative terjangkau maka jangan disamakan dengan club ternama. Menuju ke atas bisa terlihat kebersihan yang tidak terawat dan gelap. Musik dan lampu dance floor is way out of proportion.
Ruangan gelap namun masih bisa terlihat beberapa pasangan laki-laki yang berdansa cukup erotis di tengah lantai yang disoroti lampu disko hijau. Asap rokok dan dangdut koplo memenuhi ruangan, lampu lampu kecil yang dijejerkan membentuk bintang dan orang – orang yang menari ditengahnya.   
Putri membeli bir bintang botol besar dan mengisi ulang gelas-gelas yang terlihat kosong ditangan, saya memperhatikan setiap sosok yang bisa terlhat di kegelapan ini sambil bertanya apa yang sebenarnya kita nikmati di ruangan ini?
Kamar mandi dijaga ketat, mungkin untuk melindungi tempat itu agar tidak disalahgunakan sebagai tempat bersetubuh atau sekedar quick jerk off antara lagu. Puas dengan lantai dansa yang gelap dan wc yang tidak bisa di akses untuk ena-ena lalu saya, Farhan dan Oxal menyambangi Kurnia di lorong dengan lampu UV. Warna putih pada sepatu atau baju jadi berpendar.
Lalu apa yang saya dapatkan dari pengalaman pertama kali ke Moonlight?  
Yang saya sadari bahwa mungkin saya tidak akan pernah lagi mau menginjakkan kaki kesini, ya boleh lah bila diajak atau ditraktir teman.

Melanjutkan perjalanan malam ini kembali saya ke daerah mega kuningan untuk yang kedua kalinya bertandang ke Apollo, namun untuk yang pertama kalinya saya mabuk.
Apollo sudah pindah ke sudut baru walau masih di gedung yang sama, dengan format baru yang lebih syariah. Tidak ada lagi gogo dancer. Just pure music and alcohol. No fun at all.
Lalu apa yang terjadi, entah saya duduk di sofa, dance, minum, lalu kepala sempoyongan.
Elyta terbujur tepar, berkelahi dengan Maul; “Im not broke, Maul. I can pay my own OVO”
Tapi saya masih sanggup berpikir menyusuri jalan dan menginstruksikan arah ke Grab driver saat memasuki daerah CUK.
Setibanya dikomplek perumahan saya turun ditaman, pukul 4 pagi, sambil berteriak teriak sumpah serapah ke arah masjid di depan rumah; FUCK YOUUUUUUUUUUUUUUU!  

No comments