Aceh



Copy paste statusnya Irmia Fitriyah
Sebuah refleksi
==================
Banci-Banci di Aceh
Saya pertama kali ke Aceh ketika masih kecil, tahun 80an. Waktu itu belum diberlakukan syariah Islam tapi masih masa konflik. Di rumah masih ada foto saya, ibu, dan kakak perempuan di Masjid raya tanpa jilbab. Masa itu jilbab tidak diwajibkan di Aceh.
Lalu, berpuluh-puluh tahun kemudian--pasca tsunami--saya bekerja di Aceh. Di masa itu jilbab sudah diwajibkan. Syariah Islam sudah diberlakukan. Jilbab menjadi penanda utama. Tubuh perempuan--terbukti di banyak literatur--selalu dijadikan simbol kesalehan.
Begitulah, daerah khusus selalu mendapatkan perlakuan istimewa. Mungkin strategi untuk melupakan masa lalu yang kelam. Tidak seperti di Timor Leste di mana konflik dituliskan, luka-luka dibicarakan, di Aceh hal-hal seperti itu dibungkam. Khas Indonesia sejak jaman orde lama--membiarkan luka-luka tidak dibicarakan. Maka, wajar kalau kita tumbuh menjadi masyarakat munafik. Kita melupakan untuk melanjutkan hidup. Kita tidak menghadapi luka-luka kita. Kita ingin melupakan saja. Biarkan saja yang lalu biar berlalu. Itu slogan kita.
Tak salah bila sepanjang hidup kita di Indonesia, kekerasan malah ditertawakan, dibuat meme. Sok tegar. Sementara di dalam rapuh. Tak heran bila kekerasan terus terjadi. Kita enggan merasa. Menyangkal selalu lebih baik untuk kita. Apalagi bila kekerasan terjadi pada kaum yang dianggap sampah, waria.
Biarkan saja mereka dapat kekerasan. Mereka menyimpang. Itu kesalahan mereka sendiri. Mungkin begitu pikir para pelaku yang kemungkinan melihat sanak saudaranya dianiaya di depan matanya ketika ia masih kecil. Mungkin mereka melihat sanak saudaranya ditendang, dipopor senapan, ditembak bagian kakinya hingga kesakitan, ditembak hingga mati menggelepar. Dan, itu disaksikannya ketika ia masih kecil. Ia punya memori soal itu. Membekas di ingatannya dan mengejawantah menjadi rasa marah. Ya, amarah! Amarah yang selalu menghantui hidupnya.
Lalu, kebetulan ada waria. Kebetulan ada syariah Islam. Ia punya justifikasi untuk melepas amarahnya.
Dan kita, kita yang tak pernah tinggal di Aceh. Kita yang mengharu-biru dengan "kemajuan" Indonesia, tak sanggup menerima realita  bahwa kekerasan masih saja terjadi di bumi Indonesia. Kita diam saja. Pura-pura segala sesuatunya baik-baik saja meski pemberlakuan syariah Islam telah melukai banyak jiwa.
Dan kita, kita yang Muslim tak sanggup menerima realita bahwa pemberlakuan syariah Islam itu menyakiti. Mencambuk orang di depan umum karena ketahuan berkhalawat itu menyakitkan, tapi kita diam saja karena kita menganggap itu adalah tindakan yang pantas meski hati kita tersakiti. Pura-pura menerima kebenarannya meski diam-diam kita sedih. Tapi, kita harus berpura-pura tegar. Berpura-pura pemberlakuan syariah Islam itu baik meski kita tahu koruptor tak pernah dihukum cambuk. Hukum cambuk hanya untuk rakyat biasa. Anak perempuan yang orang tuanya bukan siapa-siapa. Dan, banci-banci tentu saja.
Mereka bukan siapa-siapa. Mereka tidak dihitung dalam statistik. Mereka sampah. Menyimpang.
Namun diam-diam, mereka lah yang menafkahi keluarga. Merawat ibunya yang renta. Membiayai sekolah saudara-saudaranya. Membiayai pacarnya yang turut serta dalam kelompok orang-orang yang menindas mereka.
Begitulah banci.
Mereka rela berkorban meski terus disakiti. Demi sebuah keter-terimaan (acceptance).

No comments